“Pantaskah Aku Merasa Bangga”

Aku adalah seorang siswa di salah satu sekolah menengah atas di ibu kota.

Kala itu ditahun 1996 keadaan negara yang kacau membuat ibukota sangat mencekam. Terlepas dari masalah politik, masalah lainnya di Negara ini ditimbulkan oleh kaum muda seperti kami, kaum pelajar yang baik hati dan budiman.

Yang jika dinasehati akan berontak. namun jika dikatakan merusak dan memperburuk bangsa akan tersenyum lebar dengan bangganya.

Itulah yang terjadi kala itu, di didik dengan keras adalah sebuah maklumat bagi kami. namun ketidak sehatnya akal kami akan membawa prilaku keras tersebut keluar lingkungan kami biasanya..

Prilaku keras yang kami dapatkan kala itu kami salah artikan sebagai motivasi berbuat kejahatan/ketidak stabilan dalam masyarakat, seperti berbuat onar dan tawuran.

Kala itu aku mempunyai seorang teman, Rian namanya, dia adalah seorang sahabatku sedari kecil.
Rian berada disisi yang berseberangan denganku. Dia berasal dari keluarga terdidik, dia adalah anak yang penurut, cupu, cengeng dan lemah bagiku, hal inilah yang mungkin membuat teman-teman seumurannya tidak suka dengan sifat baiknya.

Namun yang aneh dan menjadi tanda tanya bagi setiap orang adalah ‘kami yang selalu bersama-sama’.

Aku selalu menjaganya dari gangguan anak-anak kampung lain, dan selalu menemaninya belajar walau bagiku itu adalah hal yang membosankan.
Jujur saja, aku dan dia selalu bersama karena dulu aku selalu memanfaatkannya karena uang.

Sekian lama berteman, aku tidak lagi ada niatan jelek untuk selalu berkawan dengannya karena uang. aku yang miskin dan di didik oleh keluarga miskin pula masih punya rasa hormat dan terimakasih, karena keluarga Rianlah yang membiayai sekolah ku selepas sekolah dasar.

Selama berteman dan selalu bersama-sama dengannya, hal yang tak kusuka dari Rian adalah prilakunya yang selalu menasehatiku agar keluar dalam suatu masalah perkelahian.

Jika dia sudah mulai mengangkat lidah persoalan ini itu, aku selalu berkata “Toh ini bukan urusanmu, jadi gausah sok kasik nasehat”. Begitulah jawaban dari otak seorang manusia bodoh sepertiku

Aku tidak pernah mengidahkan omongannya. Bahkan, untuk mempertimbangkan nasehat yang diberikan olehnya pun tak pernah terpikirkan.

Disisi lain, Kebiasaan tarung membuatku lebih brutal dan anarki. Rian yang selalu ingin mengubahku meski sampai terpukul pula olehku tak pantang arang untuk menyampaikan pendapatnya bahwa yang aku lakukan adalah hal yang sia-sia.

Sesungguhnya dialah kawan terbaikku, namun bodohnya aku yang tidak pernah tersadar.

Suatu ketika ditahun yang sama aku murka karena dia sering menasehatiku. aku semakin muak. satu-satunya cara untuk menghentikan nasehatnya adalah menutup mulutnya. rasa bersalah tak akan hadir pada hatiku kala itu.

Diakhir semester aku pun memutuskan hubungan pertemanan dengannya. Aku sangat muak, aku membencinya dan memusuhinya sejak itu.

Dia yang dahulu gembira karena selalu ku ajak bercanda kini menjadi murung sendirian di sudut kelas. maklum, dia tak memiliki teman selainku.

Rasa iba dalam diriku tak akan muncul, bukannya meminta maaf/berteman kembali, aku selalu membantu teman-teman kelas yang lain untuk membullynya..

“Terserah saja keluarganya mau membiayaiku lagi atau tidak”, pikirku.

Setelah akhir semester tiba. Aku terkejut, Ternyata biaya sekolah ku masih dibiayai oleh ayahnya Rian.
Entah bagaimana dia membohongi ayahnya untuk membiayaiku sekolah “orang yang selalu menyakitinya”.
Tak peduli lah! Terserah saja pikirku…

Menginjak Kelas 2 SMU, aku yang kala itu bosan dengan kegiatan sekolah yang biasa-biasa saja berniat menambah ekstrakulikuler sendiri.
Karena aku yang sudah menginjak usia dewasa pikirku, aku pun saat itu mulai memutuskan untuk ikut-ikutan geng-gengan sekolahan.

Dengan di pandu & di didik kakak-kakak alumni yang bijak, Aku dengan kakak kelas yang lain memilih menambah kegiatan luar yang kami anggap bisa membanggakan sekolah. Apalagi selain TAWURAN (?).

13 juli adalah tawuran pertamaku. Yang jadi kebanggaan, Akulah dibalik cerita yang memulai tawuran itu. aku dengan sengaja menendang seorang anak SMU 17 dihadapan teman-temannya. Saat teman-temannya menghampiriku, aku berlari seketika.

Mereka mengejar sambil berteriak, “Berhenti!!” mereka bodoh pikirku sambil cengengesan, mana mungkin aku berhenti :p

Aku yang berlari dengan kencang menuju ke suatu tempat yang sudah ku sepakati dengan kakak kelasku, tak mengidahkan berbagai macam teriakan mereka..

Setelah aku sampai di tempat yang dituju, dipersimpangan jalan yang menghubungkan sekolah ku dengan SMU 17 . kakak kelasku yang menunggu dengan cekatan menghadang mereka lalu menghajarnya di tempat.

Kejadian itu sangat cepat karena jumlah lawan tidak sepadan dengan kami. Kami yang bangga dan memvonis diri kami sendiri sebagai pemenang lantas meneriaki mereka yang sudah babak belur untuk memanggil teman-temannya yang lain.

Dua hari berselang kami menemukan titik puncaknya. Entah sumber darimana, seorang kakak kelas ku sudah mendapati informasi dimana dan kapan anak-anak SMU 17 beraksi untuk mengepung kami, untuk itulah kami bersiap pula untuk menyambut mereka yang ingin mencoba menyergap.

Sepulang sekolah, Tawuran pun kembali dimulai, aku yang bersemangat hanya membawa tangan kosong. Dalam pikirku, laki-laki sejati itu lebih gentle jika berkelahi dengan tangan kosong.

Namun ketika aksi tawuran itu dimulai…. jleb, aku di tusuk dengan sebilah pisau oleh seorang anak yang menyerangku dari samping. Aku sadar, kami disini benar-benar dikepung.

Aku yang tertusuk terhuyun ke terotoar jalan dengan pandangan yang kabur. Suasana tawuran yang membuatku bersemangat tadi lenyap, sekelilingku menjadi sunyi, tak ada satupun suara yang terdengar. Dengan perasaan menyesal aku membatin “Sial, Peranku begitu singkat”.

(Visited 2 times, 1 visits today)

5 Comments

  1. Arjuna Rafi October 20, 2016 at 9:13 pm

    Ini nyata atau enggak ya ? kalau nyata , waduh , lo kok malah ikut tawuran sih ? dari gaya bahasa nya sh bagus ya , keren . Tapi kalo memang ini nyata , sayang banget waktu lo , dihabiskan buat tawuran .

    Eh nyata gak sih ?

    1. Irvan Maulana October 20, 2016 at 10:59 pm

      Cuman cerpen kak ^_^ iseng aja buat cerpen kayak gini lihat berita2 lampau soal tawuran,, 😀

  2. Keven October 21, 2016 at 9:33 am

    Baguslah kalo perannya dia singkat. Orang seperti itu, seudah dewasa pun hanya akan jadi sampah masyarakat wkwkwk. Cerpennya bagus, gaya penceritaannya menarik, apalagi mengambil sudut orang pertama, jadi membuat pembaca lebih empati sama tokoh utamanya hehehe

  3. Hanan M October 22, 2016 at 8:29 pm

    untung ini cuma cerpen ya soalnya ceritanya ttg tawuran.. jangan2 ini terinspirasi dari kejadian nyata nih? haha..
    bangga itu kalo kita berprestasi dan dapat bermanfaat untuk sekitar.. ya gak? 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *